Observatorium Bosscha ialah salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia, Bosscha dibangun oleh NISV (Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereeniging) yang dipelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha yang mencetuskan ide dibangunnya observatorium bintang pada tahun 1920. Sebagian besar bangunan Bosscha sudah selesai pada tanggal 1 Januari 1923 dan pada tahun 1928 observatorium sudah mulai beroperasi. NISV resmi menyerahkan bangunan ini kepada pemerintah RI pada tanggal 17 Oktober 1951. Bangunan bersejarah ini memiliki bentuk bangunan unik dan estetik. Sebelum observatorium bintang ini dibangun, Profesor Ir. C. P. Wolff Schoemaker sebagai arsitek perancang bangunan ini dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya sangat memperhatikan cuaca, lingkungan, fungsi dari bangunan yang akan direncanakan sebelum menuangkannya ke dalam kertas gambar.

Bangunan ini terletak 15 km dari pusat kota Bandung, tepatnya ada di Lembang, Jawa Barat dengan koordinat geografis 107° 36′ Bujur Timur dan 6° 49′ Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektar, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung. Observatorium ini mempunyai luas 225 meter persegi, dengan ketinggian 15 meter dari permukaan tanah , serta memiliki lebar bangunan sebesar 15 meter. Observatorium Bosscha memiliki 5 (lima) teropong lama yang masih fungsional, yaitu Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Teleskop Schmidt Bima Sakti, Teleskop Refraktor Bamberg, Teleskop Cassegrain GOTO, dan Teleskop Refraktor Unitron.

Selain 5 teleskop yang sudah ada dari tempo dulu, Bosscha juga menempatkan satu teropong baru yang bisa dioperasikan melalui internet, teropong ini tepatnya terletak pada sebelah timur bangunan utama Bosscha. Observatorium Bosscha juga selalu mengembangkan teknologi teropongnya dengan mengganti lensa teropong yang lebih canggih seiring dengan perkembangan zaman, tetapi bangunan bosscha sendiri tidak pernah mengalami renovasi, yang hanya dilakukan ialah perawatan bangunan.
Bangunan Observatium Bosscha ini memiliki bentuk atap kubah yang fungsional sekaligus estetik, atap ini selain dapat berputar dengan sistem rail dan sistem motor listrik sebesar 360 derajat ke seluruh arah dan dapat terbuka pada posisi searah dengan letak teleskop Refraktor Ganda Zeiss dengan menggunakan tombol yang dihubungkan dengan komputer.

Lantai bangunan ini mempunyai berat sebesar 12 ton dan dapat di atur ketinggiannya dengan menggunakan motor listrik yang terletak di bawah lantai tersebut. Pada bagian bawah lantai terdapat 3 tiang yang masing-masing memiliki satu bandul untuk meringankan beban lantai ketika digerakan dengan motor listrik. Hal lain yang menarik perhatian penulis, yaitu gerak teleskop diatur dengan bandul mekanik yang membawa energi potensial. Konsep ini menarik karena untuk menggerakan teleskop tidak perlu menggunakan daya listrik. Perencanaan bangunan yang diatur sedemikian rupa agar terwujudnya suatu bangunan yang secara maksimal dapat memenuhi tujuan perancangan bangunan tersebut amat dipikirkan oleh sang arsitektur.

Bentuk bangunan ini sangat unik, karena merupakan satu-satunya bangunan art deco yang memiliki bentuk seperti ini, beratapkan kubah dan dinding yang membentuk lingkaran. Untuk menghasilkan rancangan dengan bentuk geometri seperti ini, memerlukan pertimbangan lebih karena bangunan ini dimaksudkan untuk peneropongan bintang, maka dipilihnya bentuk ini agar secara maksimal dapat mewakili fungsi utamannya. Prof. Ir. C.P. Wolff Schoemaker sebagai arsitek bangunan ini memperlihatkan bahwa ia mengolah bentuk geometri ini dengan maksud agar sinar matahari yang jatuh pada bangunan terlihat estetis melalui kolom-kolom yang menojol di bagian bawahnnya, serta elemen-elemen garis pada landasan kubah.

Atap berbentuk kubah merupakan salah satu hal yang paling menarik dari bangunan ini. Kubah yang dapat berputar ini di desain sedemikian rupa, agar kita dapat melihat bintang melalui teropong ke segala penjuru arah, karena itu dipilih bentuk kubah yang merupakan bentuk geometri yang fleksibel, sehingga fungsi utama didirikannya bangunan ini dapat dimaksimalkan. Atap ini dapat dibuka di bagian teropong Zeiss berada, celah tersebut telah diperhitungkan ukurannya, sehingga tidak menghalangi proses peneropongan. Motor listrik untuk memutar kubah dan menaik-turunkan lantai sudah ada sejak awal bangunan ini di desain, sedangkan untuk membuka atap tersebut saat ini tidak menggunakan sistem manual lagi, tetapi telah diperbaharui dengan menggunakan tombol otomatis yang dihubungkan dengan komputer.

Letak bangunan ini berdasarkan hasil penelian geologi, dimana bangunan berdiri di atas batuan vulkanik yang stabil dan aman, karena bangunan ini harus tahan gempa dan tidak boleh bergerak atau mengalami penurunan (settlement), terutama mengingat keberadaan lensa dari teleskop-teleskop di dalam bangunan ini yang posisinya tidak boleh berubah. Peletakan bangunan ini sangat penting, agar terwujudnya bangunan yang dapat bertahan lama dan tetap memiliki kualitas baik dari segi bentuk maupun fungsinya.

Berdasarkan hasil pembahasan berbagai aspek tentang bangunan bersejarah observatorium Bosscha yang diuraikan di atas, maka dapat ditaribeberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Bangunan observatorium Bosscha ini dapat digolongkan sebagai bangunan bergaya art deco, karena seperti yang penulis bahas dalam analisa bahwa bangunan ini memiliki ciri khas art deco. Disamping itu bangunan ini mempunyai nilai keunikan yang berbeda dari bangunan lainnya, karena bentuk dari gaya art deco pada umumnya kubus. Kesimpulan bahwa gaya bangunan ini ialah art deco diperkuat oleh arsitek dari bangunan ini yaitu Prof. Ir. C.P. Wolff Schoemaker yang merancang bangunan-bangunan bersejarah dengan gaya art deco yang digabungkan dengan gaya tradisional Indonesia.

2. Peletakan bangunan Bosscha ini tidak dapat berdiri disembarang tempat, karena sebelumnya harus diteliti aspek geologinya apakah tanah dasar atau tempat tersebut cukup stabil dan aman, terutama harus diperhitungkan secara matang tentang besarnya daya dukung tanah dasar serta faktor keamanannya, agar bangunan tersebut tetap stabil dan tidak mengalami penurunan (settlement) dan tahan gempa.

maka itu, sempatkanlah datang ke observatorium ini, untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman ruang tersendiri.

 

sumber: mariamtania.blogspirit.com

About these ads